Overthinker, katanya

 "Pintar sih, tapi kurang menarik."

"Cantik sih, tapi kakinya banyak bekas luka."

"Baik sih, tapi gak cantik, percuma."

Ada banyak versi dari kalimat di atas, dan aku rasa hampir semua orang pernah mendengar kalimat seperti itu. Dari mulut tetangga, teman, keluarga, bahkan orang yang gak kita kenal. Rasanya? Tentu saja gak enak. Semua yang kita lakukan terasa remeh bagi orang lain, mereka gak lihat seberapa besar perjuangan diri kita untuk bisa berada di titik ini. Yang orang lain bisa lakukan hanya mengkritik dan mengomentari. Apa manfaatnya bagi mereka, sehingga mereka terus melontarkan kalimat sepertu itu? Ya gak ada. Pada dasarnya manusia tidak pernah merasa puas tentang semua hal. Jadi pasti ada aja yang dikritik, entah itu pemerintah, masyarakat, atau diri mereka sendiri. 

Diriku yang lama pasti berpikir bahwa kalimat kayak gitu hanya membawa dampak negatif ke diriku, gak ada makna yang bisa aku ambil dari kalimat tersebut. Hasilnya, aku selalu merasa kurang dan selalu berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap diriku. Aku selalu takut tentang apa yang orang lain pikirkan tentang aku dan bagaimana cara pandang mereka terhadap aku. Setiap aku berbuat kesalahan, yang ada di pikiranku hanya 'pikiran' orang lain tentang diriku. Alhasil, aku takut untuk berinteraksi dengan orang lain dan takut untuk keluar dari zona nyaman. Tapi lama kelamaan, aku capek harus bertingkah dan berpikir seperti ini. Cuman nyiksa diri sendiri.

Sampe akhirnya aku sadar, kalau aku gak bisa mengontrol ucapan orang lain, apa yang orang lain pikirkan tentang aku, bagaimana cara pandang mereka terhadap aku. Aku hanya bisa mengontrol diriku sendiri. Aku hanya bisa mengontrol tindakanku, ucapanku, dan pikiranku, tapi tidak dengan milik orang lain. Kalimat - kalimat di awal yang tadinya aku anggap hanya membawa dampak negatif, ternyata memiliki dampak positif juga. Melalui kalimat itu, aku jadi tau apa kelemahanku dan berusaha untuk  memperbaiki diri. Semakin banyak orang yang mengkritikku, maka semakin banyak pula orang yang peduli terhadapku. Aku menganggap mereka sebagai supporter, sebagai batu loncatan untuk merubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Emang sih, awal-awal masih kepikiran. Ternyata enak loh, hidup tanpa memikirkan pikiran orang lain terhadap diri sendiri. Terasa lebih lega dan tidak takut untuk memulai sesuatu. 

Tapi, jangan mentang-mentang kalian menerapkan prinsip seperti yang aku lakukan di paragraf 3, kalian jadi tidak peduli dengan orang lain. BIG NO. Kalian tetap harus aware dengan orang di sekitar kalian. 

Comments